{"id":2689,"date":"2026-06-28T16:15:55","date_gmt":"2026-06-28T16:15:55","guid":{"rendered":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/?p=2689"},"modified":"2026-07-25T09:31:46","modified_gmt":"2026-07-25T09:31:46","slug":"aturan-konfigurasi-elektron","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/aturan-konfigurasi-elektron\/","title":{"rendered":"Aturan Konfigurasi Elektron: Pengertian, Prinsip, Langkah Menentukan, dan Contoh Soal"},"content":{"rendered":"<p data-start=\"89\" data-end=\"495\"><strong data-start=\"89\" data-end=\"120\"><b><a href=\"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\">Rumah Pintar<\/a> \u2013\u00a0\u00a0<\/b><\/strong>Aturan konfigurasi elektron merupakan materi dasar Kimia SMA Kelas 11 yang menjelaskan bagaimana elektron tersusun di dalam atom. Konfigurasi elektron tidak disusun secara acak, melainkan mengikuti aturan-aturan tertentu agar atom berada pada keadaan yang paling stabil.<\/p>\n<p data-start=\"89\" data-end=\"495\">Oleh karena itu, siswa perlu memahami konsep ini sebelum mempelajari sistem periodik unsur, ikatan kimia, maupun sifat-sifat unsur.<\/p>\n<p data-start=\"497\" data-end=\"961\">Sahabat Rumah Pintar, konfigurasi elektron menjadi salah satu materi yang sering muncul dalam ujian sekolah maupun berbagai tes masuk perguruan tinggi. Meskipun terlihat rumit karena melibatkan banyak orbital dan aturan, sebenarnya penyusunan konfigurasi elektron akan menjadi lebih mudah jika dipahami secara bertahap. Artikel ini membahas seluruh aturan konfigurasi elektron secara lengkap, mulai dari prinsip dasar, urutan pengisian orbital, hingga contoh soal.<\/p>\n<h2 data-start=\"963\" data-end=\"995\">Apa Itu Konfigurasi Elektron?<\/h2>\n<p data-start=\"997\" data-end=\"1226\">Konfigurasi elektron adalah susunan elektron suatu atom pada kulit, subkulit, atau orbital berdasarkan tingkat energinya. Susunan ini menunjukkan posisi setiap elektron sehingga dapat menjelaskan berbagai sifat kimia suatu unsur.<\/p>\n<p data-start=\"1228\" data-end=\"1475\">Setiap unsur memiliki konfigurasi elektron yang berbeda karena jumlah elektronnya berbeda. Perbedaan susunan elektron tersebut memengaruhi letak unsur dalam sistem periodik, jumlah elektron valensi, serta kecenderungan atom membentuk ikatan kimia.<\/p>\n<h2 data-start=\"1477\" data-end=\"1517\">Mengapa Konfigurasi Elektron Penting?<\/h2>\n<p data-start=\"1519\" data-end=\"1715\">Elektron merupakan partikel subatom yang berperan langsung dalam berbagai reaksi kimia. Cara elektron tersusun di sekitar inti atom menentukan bagaimana suatu unsur berinteraksi dengan unsur lain.<\/p>\n<p data-start=\"1717\" data-end=\"2044\">Selain itu, konfigurasi elektron juga menjadi dasar dalam memahami materi lanjutan, seperti bentuk tabel periodik modern, ikatan ion, ikatan kovalen, sifat periodik unsur, hingga teori orbital molekul. Dengan memahami konfigurasi elektron, siswa akan lebih mudah mempelajari hubungan antara struktur atom dan sifat-sifat unsur.<\/p>\n<h2 data-start=\"2046\" data-end=\"2096\">Aturan Konfigurasi Elektron yang Harus Dipahami<\/h2>\n<p data-start=\"2098\" data-end=\"2342\">Dalam konfigurasi elektron modern terdapat tiga aturan utama yang selalu digunakan secara bersamaan. Ketiga aturan tersebut saling melengkapi sehingga penyusunan elektron menjadi teratur dan sesuai dengan keadaan energi atom yang paling stabil.<\/p>\n<h3 data-start=\"2344\" data-end=\"2364\">1. Aturan Aufbau<\/h3>\n<p data-start=\"2366\" data-end=\"2676\">Aturan Aufbau menyatakan bahwa elektron akan mengisi orbital yang memiliki energi paling rendah terlebih dahulu sebelum berpindah ke orbital dengan energi yang lebih tinggi. Kata <em data-start=\"2545\" data-end=\"2553\">Aufbau<\/em> berasal dari bahasa Jerman yang berarti &#8220;membangun&#8221;, yaitu menyusun elektron secara bertahap dari tingkat energi terendah.<\/p>\n<p data-start=\"2678\" data-end=\"2896\">Sebagai contoh, elektron akan mengisi orbital 1s terlebih dahulu, kemudian 2s, 2p, 3s, dan seterusnya sesuai urutan tingkat energinya. Aturan ini menjadi langkah awal dalam menentukan konfigurasi elektron setiap unsur.<\/p>\n<h3 data-start=\"2898\" data-end=\"2924\">2. Asas Larangan Pauli<\/h3>\n<p data-start=\"2926\" data-end=\"3164\">Asas Larangan Pauli menjelaskan bahwa tidak ada dua elektron dalam satu atom yang memiliki keempat bilangan kuantum yang sama. Konsekuensinya, satu orbital hanya dapat ditempati oleh maksimal dua elektron dengan arah spin yang berlawanan.<\/p>\n<p data-start=\"3166\" data-end=\"3355\">Aturan ini memastikan bahwa setiap orbital memiliki kapasitas yang terbatas. Setelah sebuah orbital berisi dua elektron, elektron berikutnya harus mengisi orbital lain sesuai urutan energi.<\/p>\n<h3 data-start=\"3357\" data-end=\"3383\">3. Prinsip Aturan Hund<\/h3>\n<p data-start=\"3385\" data-end=\"3551\">Prinsip aturan Hund menyatakan bahwa elektron akan mengisi orbital-orbital yang memiliki tingkat energi sama secara tunggal terlebih dahulu sebelum mulai berpasangan.<\/p>\n<p data-start=\"3553\" data-end=\"3790\">Aturan ini membuat susunan elektron menjadi lebih stabil karena mengurangi gaya tolak-menolak antar elektron dalam orbital yang sama. Setelah seluruh orbital setingkat terisi satu elektron, barulah elektron berikutnya membentuk pasangan.<\/p>\n<h2 data-start=\"3792\" data-end=\"3819\">Urutan Pengisian Orbital<\/h2>\n<p data-start=\"3821\" data-end=\"3992\">Pada konfigurasi elektron modern, urutan pengisian orbital tidak selalu mengikuti nomor kulit. Hal ini disebabkan tingkat energi beberapa orbital saling bertumpang tindih.<\/p>\n<p data-start=\"3994\" data-end=\"4064\">Urutan pengisian orbital menurut aturan Aufbau adalah sebagai berikut.<\/p>\n<p data-start=\"4066\" data-end=\"4162\"><strong data-start=\"4066\" data-end=\"4162\">1s \u2192 2s \u2192 2p \u2192 3s \u2192 3p \u2192 4s \u2192 3d \u2192 4p \u2192 5s \u2192 4d \u2192 5p \u2192 6s \u2192 4f \u2192 5d \u2192 6p \u2192 7s \u2192 5f \u2192 6d \u2192 7p<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"4164\" data-end=\"4254\">Urutan ini digunakan hampir pada seluruh unsur dalam sistem periodik, meskipun terdapat beberapa pengecualian pada unsur tertentu seperti kromium dan tembaga.<\/p>\n<h2 data-start=\"4458\" data-end=\"4495\">Kapasitas Maksimum Setiap Subkulit<\/h2>\n<p data-start=\"4497\" data-end=\"4597\">Setiap subkulit memiliki jumlah orbital yang berbeda sehingga kapasitas elektronnya juga tidak sama.<\/p>\n<div class=\"TyagGW_tableContainer\">\n<div class=\"group TyagGW_tableWrapper flex flex-col-reverse w-fit\" tabindex=\"-1\">\n<table class=\"w-fit min-w-(--thread-content-width)\" data-start=\"4599\" data-end=\"4722\">\n<thead data-start=\"4599\" data-end=\"4648\">\n<tr data-start=\"4599\" data-end=\"4648\">\n<th class=\"last:pe-10\" data-start=\"4599\" data-end=\"4610\" data-col-size=\"sm\">Subkulit<\/th>\n<th class=\"last:pe-10\" data-start=\"4610\" data-end=\"4627\" data-col-size=\"sm\">Jumlah Orbital<\/th>\n<th class=\"last:pe-10\" data-start=\"4627\" data-end=\"4648\" data-col-size=\"sm\">Maksimum Elektron<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody data-start=\"4665\" data-end=\"4722\">\n<tr data-start=\"4665\" data-end=\"4678\">\n<td data-start=\"4665\" data-end=\"4669\" data-col-size=\"sm\">s<\/td>\n<td data-start=\"4669\" data-end=\"4673\" data-col-size=\"sm\">1<\/td>\n<td data-start=\"4673\" data-end=\"4678\" data-col-size=\"sm\">2<\/td>\n<\/tr>\n<tr data-start=\"4679\" data-end=\"4692\">\n<td data-start=\"4679\" data-end=\"4683\" data-col-size=\"sm\">p<\/td>\n<td data-start=\"4683\" data-end=\"4687\" data-col-size=\"sm\">3<\/td>\n<td data-start=\"4687\" data-end=\"4692\" data-col-size=\"sm\">6<\/td>\n<\/tr>\n<tr data-start=\"4693\" data-end=\"4707\">\n<td data-start=\"4693\" data-end=\"4697\" data-col-size=\"sm\">d<\/td>\n<td data-start=\"4697\" data-end=\"4701\" data-col-size=\"sm\">5<\/td>\n<td data-start=\"4701\" data-end=\"4707\" data-col-size=\"sm\">10<\/td>\n<\/tr>\n<tr data-start=\"4708\" data-end=\"4722\">\n<td data-start=\"4708\" data-end=\"4712\" data-col-size=\"sm\">f<\/td>\n<td data-start=\"4712\" data-end=\"4716\" data-col-size=\"sm\">7<\/td>\n<td data-start=\"4716\" data-end=\"4722\" data-col-size=\"sm\">14<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<\/div>\n<\/div>\n<p data-start=\"4724\" data-end=\"4869\">Informasi tersebut penting karena membantu menentukan kapan suatu subkulit telah penuh dan kapan elektron harus berpindah ke subkulit berikutnya.<\/p>\n<h2 data-start=\"4871\" data-end=\"4921\">Langkah-Langkah Menentukan Konfigurasi Elektron<\/h2>\n<h3 data-start=\"4923\" data-end=\"4946\">Tentukan Nomor Atom<\/h3>\n<p data-start=\"4948\" data-end=\"5152\">Langkah pertama adalah mengetahui nomor atom unsur yang akan dicari konfigurasi elektronnya. Pada atom netral, nomor atom sama dengan jumlah elektron sehingga menjadi dasar dalam proses pengisian orbital.<\/p>\n<p data-start=\"5154\" data-end=\"5317\">Sebagai contoh, atom natrium memiliki nomor atom 11. Artinya, terdapat sebelas elektron yang harus ditempatkan ke dalam orbital sesuai aturan konfigurasi elektron.<\/p>\n<h3 data-start=\"5319\" data-end=\"5355\">Isi Orbital Sesuai Urutan Aufbau<\/h3>\n<p data-start=\"5357\" data-end=\"5579\">Elektron dimasukkan satu per satu mengikuti urutan energi orbital, dimulai dari 1s hingga seluruh elektron habis ditempatkan. Pada tahap ini, kapasitas setiap subkulit harus diperhatikan agar tidak melebihi batas maksimum.<\/p>\n<p data-start=\"5581\" data-end=\"5689\">Apabila suatu orbital telah penuh, pengisian dilanjutkan ke orbital berikutnya sesuai urutan tingkat energi.<\/p>\n<h3 data-start=\"5691\" data-end=\"5723\">Terapkan Asas Larangan Pauli<\/h3>\n<p data-start=\"5725\" data-end=\"5888\">Ketika dua elektron berada dalam orbital yang sama, keduanya harus memiliki arah spin yang berlawanan. Aturan ini berlaku untuk seluruh orbital tanpa pengecualian.<\/p>\n<p data-start=\"5890\" data-end=\"6003\">Dengan demikian, tidak ada orbital yang berisi lebih dari dua elektron selama penyusunan konfigurasi berlangsung.<\/p>\n<h3 data-start=\"6005\" data-end=\"6037\">Terapkan Prinsip Aturan Hund<\/h3>\n<p data-start=\"6039\" data-end=\"6227\">Jika elektron mulai mengisi subkulit p, d, atau f yang memiliki beberapa orbital setingkat, elektron harus mengisi setiap orbital secara tunggal terlebih dahulu sebelum membentuk pasangan.<\/p>\n<p data-start=\"6229\" data-end=\"6320\">Langkah ini menghasilkan konfigurasi elektron yang paling stabil sesuai keadaan dasar atom.<\/p>\n<h2 data-start=\"6322\" data-end=\"6352\">Contoh Konfigurasi Elektron<\/h2>\n<h3 data-start=\"6354\" data-end=\"6382\">Contoh 1: Karbon (Z = 6)<\/h3>\n<p data-start=\"6384\" data-end=\"6404\">Jumlah elektron = 6.<\/p>\n<p data-start=\"6406\" data-end=\"6450\">Pengisian orbital dilakukan sebagai berikut.<\/p>\n<p data-start=\"6452\" data-end=\"6467\"><strong data-start=\"6452\" data-end=\"6467\">1s\u00b2 2s\u00b2 2p\u00b2<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"6469\" data-end=\"6576\">Pada subkulit 2p, kedua elektron menempati orbital yang berbeda terlebih dahulu sesuai prinsip aturan Hund.<\/p>\n<h3 data-start=\"6578\" data-end=\"6608\">Contoh 2: Natrium (Z = 11)<\/h3>\n<p data-start=\"6610\" data-end=\"6631\">Jumlah elektron = 11.<\/p>\n<p data-start=\"6633\" data-end=\"6664\">Konfigurasi elektronnya adalah:<\/p>\n<p data-start=\"6666\" data-end=\"6685\"><strong data-start=\"6666\" data-end=\"6685\">1s\u00b2 2s\u00b2 2p\u2076 3s\u00b9<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"6687\" data-end=\"6770\">Elektron ke-11 mulai mengisi subkulit 3s setelah seluruh subkulit sebelumnya penuh.<\/p>\n<h3 data-start=\"6772\" data-end=\"6802\">Contoh 3: Kalsium (Z = 20)<\/h3>\n<p data-start=\"6804\" data-end=\"6825\">Jumlah elektron = 20.<\/p>\n<p data-start=\"6827\" data-end=\"6859\">Konfigurasi elektronnya menjadi:<\/p>\n<p data-start=\"6861\" data-end=\"6888\"><strong data-start=\"6861\" data-end=\"6888\">1s\u00b2 2s\u00b2 2p\u2076 3s\u00b2 3p\u2076 4s\u00b2<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"6890\" data-end=\"7008\">Pada unsur ini terlihat bahwa orbital 4s terisi lebih dahulu dibandingkan 3d karena memiliki energi yang lebih rendah.<\/p>\n<h2 data-start=\"7010\" data-end=\"7058\">Pengecualian pada Aturan Konfigurasi Elektron<\/h2>\n<p data-start=\"7060\" data-end=\"7241\">Sebagian besar unsur mengikuti aturan Aufbau secara langsung. Namun, beberapa unsur memiliki konfigurasi elektron yang sedikit berbeda karena menghasilkan keadaan yang lebih stabil.<\/p>\n<p data-start=\"7243\" data-end=\"7580\">Contoh yang paling dikenal adalah kromium (Cr) dan tembaga (Cu). Pada kedua unsur tersebut, sebagian elektron berpindah agar subkulit d menjadi setengah penuh atau penuh sehingga energi atom menjadi lebih rendah. Pada tingkat SMA, siswa cukup mengetahui bahwa pengecualian tersebut memang ada tanpa harus menghafal terlalu banyak contoh.<\/p>\n<h2 data-start=\"7582\" data-end=\"7651\">Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menentukan Konfigurasi Elektron<\/h2>\n<p data-start=\"7653\" data-end=\"7881\">Kesalahan yang paling umum adalah mengisi orbital berdasarkan nomor kulit tanpa memperhatikan tingkat energi. Akibatnya, banyak siswa menempatkan elektron pada subkulit 3d sebelum 4s, padahal urutan yang benar justru sebaliknya.<\/p>\n<p data-start=\"7883\" data-end=\"8176\">Kesalahan lain adalah mengabaikan asas Larangan Pauli dan prinsip aturan Hund. Beberapa siswa langsung memasangkan elektron pada orbital yang sama meskipun masih terdapat orbital kosong dengan tingkat energi setara. Padahal, pengisian yang benar harus mengikuti ketiga aturan secara bersamaan.<\/p>\n<h2 data-start=\"8178\" data-end=\"8220\">Contoh Soal Aturan Konfigurasi Elektron<\/h2>\n<h3 data-start=\"8222\" data-end=\"8239\">Contoh Soal 1<\/h3>\n<p data-start=\"8241\" data-end=\"8295\">Tentukan konfigurasi elektron atom magnesium (Z = 12).<\/p>\n<p data-start=\"8297\" data-end=\"8314\"><strong data-start=\"8297\" data-end=\"8314\">Penyelesaian:<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"8316\" data-end=\"8337\">Jumlah elektron = 12.<\/p>\n<p data-start=\"8339\" data-end=\"8356\">Urutan pengisian:<\/p>\n<p data-start=\"8358\" data-end=\"8379\">1s\u00b2 \u2192 2s\u00b2 \u2192 2p\u2076 \u2192 3s\u00b2<\/p>\n<p data-start=\"8381\" data-end=\"8393\"><strong data-start=\"8381\" data-end=\"8393\">Jawaban:<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"8395\" data-end=\"8414\"><strong data-start=\"8395\" data-end=\"8414\">1s\u00b2 2s\u00b2 2p\u2076 3s\u00b2<\/strong><\/p>\n<h3 data-start=\"8416\" data-end=\"8433\">Contoh Soal 2<\/h3>\n<p data-start=\"8435\" data-end=\"8485\">Mengapa orbital 4s diisi lebih dahulu daripada 3d?<\/p>\n<p data-start=\"8487\" data-end=\"8504\"><strong data-start=\"8487\" data-end=\"8504\">Penyelesaian:<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"8506\" data-end=\"8717\">Menurut aturan Aufbau, elektron selalu mengisi orbital dengan energi paling rendah terlebih dahulu. Energi orbital 4s sedikit lebih rendah dibandingkan orbital 3d sehingga elektron akan memasuki 4s lebih dahulu.<\/p>\n<p data-start=\"8719\" data-end=\"8731\"><strong data-start=\"8719\" data-end=\"8731\">Jawaban:<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"8733\" data-end=\"8835\">Orbital 4s diisi terlebih dahulu karena memiliki tingkat energi yang lebih rendah daripada orbital 3d.<\/p>\n<h3 data-start=\"8837\" data-end=\"8854\">Contoh Soal 3<\/h3>\n<p data-start=\"8856\" data-end=\"8916\">Mengapa elektron pada subkulit p tidak langsung berpasangan?<\/p>\n<p data-start=\"8918\" data-end=\"8935\"><strong data-start=\"8918\" data-end=\"8935\">Penyelesaian:<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"8937\" data-end=\"9075\">Hal tersebut mengikuti prinsip aturan Hund yang menyatakan bahwa elektron mengisi setiap orbital setingkat secara tunggal terlebih dahulu.<\/p>\n<p data-start=\"9077\" data-end=\"9089\"><strong data-start=\"9077\" data-end=\"9089\">Jawaban:<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"9091\" data-end=\"9200\">Elektron menyebar ke orbital yang berbeda terlebih dahulu agar atom berada pada keadaan energi paling stabil.<\/p>\n<h2 data-start=\"9202\" data-end=\"9215\">Kesimpulan<\/h2>\n<p data-start=\"9217\" data-end=\"9572\"><strong data-start=\"9217\" data-end=\"9248\">Aturan konfigurasi elektron<\/strong> merupakan pedoman dalam menyusun elektron ke dalam orbital berdasarkan tingkat energinya. Penyusunan tersebut mengikuti tiga prinsip utama, yaitu aturan Aufbau, asas Larangan Pauli, dan prinsip aturan Hund. Ketiga aturan ini saling melengkapi sehingga menghasilkan konfigurasi elektron yang paling stabil untuk setiap atom.<\/p>\n<p data-start=\"9574\" data-end=\"9952\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Dengan memahami urutan pengisian orbital, kapasitas setiap subkulit, serta cara menerapkan ketiga aturan tersebut, siswa akan lebih mudah menentukan konfigurasi elektron berbagai unsur dan menyelesaikan soal-soal struktur atom. Oleh karena itu, penguasaan <strong data-start=\"9830\" data-end=\"9861\">aturan konfigurasi elektron<\/strong> menjadi fondasi penting dalam mempelajari Kimia SMA Kelas 11 maupun materi kimia lanjutan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rumah Pintar \u2013\u00a0\u00a0Aturan konfigurasi elektron merupakan materi dasar Kimia SMA Kelas 11 yang menjelaskan bagaimana elektron tersusun di dalam atom. Konfigurasi elektron tidak disusun secara acak, melainkan mengikuti aturan-aturan tertentu agar atom berada pada keadaan yang paling stabil. Oleh karena [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2762,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"default","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[258,303,36],"tags":[322],"class_list":["post-2689","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kimia","category-kimia-kelas-11","category-konsep-dan-pelajaran","tag-kimia-sma-kelas-11"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2689","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2689"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2689\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2764,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2689\/revisions\/2764"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2762"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2689"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2689"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2689"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}