{"id":2612,"date":"2026-06-27T11:15:20","date_gmt":"2026-06-27T11:15:20","guid":{"rendered":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/?p=2612"},"modified":"2026-07-20T05:39:39","modified_gmt":"2026-07-20T05:39:39","slug":"bunyi-hukum-ohm","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/bunyi-hukum-ohm\/","title":{"rendered":"Bunyi Hukum Ohm: Pengertian, Rumus Hukum Ohm, Penemu, Contoh Soal, dan Penerapannya"},"content":{"rendered":"<p><strong data-start=\"259\" data-end=\"278\"><b><a href=\"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\">Blog Rumah Pintar<\/a><\/b>\u00a0\u2013\u00a0<\/strong>Saat Sahabat Rumah Pintar menyalakan lampu, mengisi daya ponsel, atau menggunakan kipas angin, arus listrik dapat mengalir melalui rangkaian sehingga peralatan tersebut dapat berfungsi dengan baik.<\/p>\n<p>Namun, besarnya arus listrik yang mengalir ternyata tidak terjadi secara acak karena dipengaruhi oleh tegangan dan hambatan pada rangkaian.<\/p>\n<p>Hubungan ketiga besaran tersebut dijelaskan melalui <strong>bunyi Hukum Ohm<\/strong>, yang menjadi salah satu konsep dasar dalam materi listrik dinamis pada Fisika SMP Kelas 9.<\/p>\n<h2>Siapa Penemu Hukum Ohm?<\/h2>\n<p>Sebelum mempelajari <strong>bunyi Hukum Ohm<\/strong>, Sahabat Rumah Pintar perlu mengenal tokoh yang menemukan hukum ini. <strong>Penemu Hukum Ohm<\/strong> adalah Georg Simon Ohm, seorang ilmuwan dan fisikawan asal Jerman yang melakukan berbagai penelitian mengenai hubungan antara arus listrik, tegangan, dan hambatan.<\/p>\n<p>Melalui hasil penelitiannya, Georg Simon Ohm berhasil menjelaskan bahwa besar arus listrik dalam suatu penghantar dipengaruhi oleh tegangan yang diberikan dan hambatan yang dimiliki penghantar tersebut. Temuan ini kemudian dikenal sebagai Hukum Ohm dan masih digunakan hingga sekarang dalam berbagai bidang kelistrikan dan elektronika.<\/p>\n<h2>Bunyi Hukum Ohm<\/h2>\n<p>Banyak siswa mencari informasi mengenai <strong>bunyi Hukum Ohm<\/strong> atau meminta untuk <strong>tuliskan bunyi Hukum Ohm<\/strong>. Secara sederhana, <strong>Hukum Ohm berbunyi<\/strong>:<\/p>\n<blockquote><p><strong>&#8220;Besarnya kuat arus listrik yang mengalir melalui suatu penghantar berbanding lurus dengan beda potensial (tegangan) dan berbanding terbalik dengan hambatan penghantar, selama suhu penghantar tetap.&#8221;<\/strong><\/p><\/blockquote>\n<p>Melalui bunyi tersebut dapat dipahami bahwa semakin besar tegangan yang diberikan, arus listrik akan semakin besar apabila hambatan tidak berubah. Sebaliknya, apabila hambatan semakin besar, arus listrik akan semakin kecil meskipun tegangannya tetap.<\/p>\n<p>Dengan kata lain, perubahan salah satu besaran akan memengaruhi besaran lainnya. Oleh sebab itu, konsep ini menjadi dasar dalam menghitung berbagai persoalan kelistrikan, baik pada rangkaian sederhana maupun perangkat elektronik yang lebih kompleks.<\/p>\n<h2>Hukum Ohm Menyatakan Hubungan Antara Apa?<\/h2>\n<p>Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah Hukum Ohm menyatakan hubungan antara besaran apa saja. Menurut ulasan Kevin M. Tenny (2023) dalam salah satu <a href=\"https:\/\/www.ncbi.nlm.nih.gov\/books\/NBK441875\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">buku di National Library of Medicine<\/a> (NIH), dipaparkan bahwa hukum Ohm menjelaskan hubungan antara tiga besaran utama, yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li>tegangan listrik (Volt);<\/li>\n<li>kuat arus listrik (Ampere);<\/li>\n<li>hambatan listrik (Ohm).<\/li>\n<\/ul>\n<p>Ketiga besaran tersebut saling berkaitan sehingga apabila dua besaran diketahui, besaran lainnya dapat dihitung menggunakan persamaan Hukum Ohm.<\/p>\n<h2>Rumus Hukum Ohm<\/h2>\n<p>Hubungan antara tegangan, arus, dan hambatan dinyatakan melalui <strong>rumus Hukum Ohm<\/strong> berikut.<\/p>\n<p><strong>V = I \u00d7 R<\/strong><\/p>\n<p>Keterangan:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>V<\/strong> = tegangan listrik (Volt)<\/li>\n<li><strong>I<\/strong> = kuat arus listrik (Ampere)<\/li>\n<li><strong>R<\/strong> = hambatan listrik (Ohm)<\/li>\n<\/ul>\n<p>Dari persamaan tersebut dapat diturunkan dua rumus lainnya sehingga lebih mudah digunakan sesuai data yang diketahui.<\/p>\n<p><strong>I = V \u00f7 R<\/strong><\/p>\n<p><strong>R = V \u00f7 I<\/strong><\/p>\n<p>Ketiga persamaan tersebut dikenal sebagai <strong>persamaan Hukum Ohm<\/strong> dan digunakan dalam hampir seluruh perhitungan dasar kelistrikan.<\/p>\n<h2>Cara Memahami Hukum Ohm dengan Mudah<\/h2>\n<p>Agar lebih mudah memahami konsep ini, bayangkan arus listrik seperti aliran air di dalam pipa. Tegangan dapat diibaratkan sebagai tekanan air yang mendorong aliran tersebut, sedangkan hambatan menyerupai ukuran pipa yang menghambat aliran air.<\/p>\n<p>Semakin besar tekanan air, semakin deras aliran yang terjadi. Sebaliknya, apabila pipa semakin sempit, aliran air menjadi lebih kecil. Prinsip tersebut sama dengan hubungan antara tegangan, arus listrik, dan hambatan pada Hukum Ohm.<\/p>\n<h2>Faktor yang Memengaruhi Besarnya Arus Listrik<\/h2>\n<h3>Tegangan Listrik<\/h3>\n<p>Tegangan merupakan gaya yang mendorong muatan listrik untuk bergerak melalui penghantar. Semakin besar tegangan yang diberikan, semakin besar pula arus listrik yang dapat mengalir apabila hambatan tetap.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, peningkatan tegangan akan menyebabkan arus listrik bertambah sesuai dengan Hukum Ohm.<\/p>\n<h3>Hambatan Listrik<\/h3>\n<p>Hambatan merupakan sifat suatu penghantar yang menghalangi aliran arus listrik. Semakin besar hambatan suatu penghantar, semakin sulit arus listrik mengalir.<\/p>\n<p>Akibatnya, arus listrik akan semakin kecil apabila nilai hambatan meningkat, sedangkan tegangan tetap.<\/p>\n<h3>Suhu Penghantar<\/h3>\n<p>Bunyi Hukum Ohm berlaku ketika suhu penghantar tetap. Apabila suhu berubah, hambatan penghantar juga dapat berubah sehingga hubungan antara tegangan dan arus tidak lagi sepenuhnya mengikuti persamaan sederhana Hukum Ohm.<\/p>\n<p>Karena itulah syarat suhu tetap selalu disebutkan dalam penjelasan Hukum Ohm.<\/p>\n<h2>Contoh Soal Hukum Ohm<\/h2>\n<h3>Contoh Soal 1<\/h3>\n<p>Sebuah hambatan sebesar 20 \u03a9 dihubungkan dengan sumber tegangan 100 V. Berapakah kuat arus yang mengalir?<\/p>\n<p><strong>Diketahui:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>V = 100 V<\/li>\n<li>R = 20 \u03a9<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Penyelesaian:<\/strong><\/p>\n<p>I = V \u00f7 R<\/p>\n<p>I = 100 \u00f7 20<\/p>\n<p>I = 5 A<\/p>\n<p>Jadi, kuat arus listrik yang mengalir adalah <strong>5 ampere<\/strong>.<\/p>\n<h3>Contoh Soal 2<\/h3>\n<p>Sebuah rangkaian dialiri arus sebesar 2 A dan memiliki hambatan 15 \u03a9. Berapakah besar tegangannya?<\/p>\n<p><strong>Diketahui:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>I = 2 A<\/li>\n<li>R = 15 \u03a9<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Penyelesaian:<\/strong><\/p>\n<p>V = I \u00d7 R<\/p>\n<p>V = 2 \u00d7 15<\/p>\n<p>V = 30 V<\/p>\n<p>Jadi, tegangan pada rangkaian tersebut adalah <strong>30 volt<\/strong>.<\/p>\n<h2>Grafik Hukum Ohm<\/h2>\n<p>Hubungan antara tegangan dan arus pada penghantar yang memenuhi Hukum Ohm dapat digambarkan melalui grafik berbentuk garis lurus yang melewati titik asal. Hal tersebut menunjukkan bahwa arus listrik bertambah secara sebanding ketika tegangan dinaikkan selama hambatan tetap.<\/p>\n<p>Sebaliknya, apabila grafik tidak berbentuk garis lurus, penghantar tersebut tidak sepenuhnya memenuhi karakteristik Hukum Ohm karena terdapat faktor lain yang memengaruhi hubungan antara tegangan dan arus.<\/p>\n<h2>Penerapan Hukum Ohm dalam Kehidupan Sehari-hari<\/h2>\n<p>Konsep Hukum Ohm digunakan dalam berbagai perangkat listrik maupun elektronik yang digunakan setiap hari. Berikut beberapa contohnya.<\/p>\n<ul>\n<li>perhitungan instalasi listrik rumah;<\/li>\n<li>perancangan rangkaian elektronik;<\/li>\n<li>charger telepon seluler;<\/li>\n<li>televisi;<\/li>\n<li>kipas angin;<\/li>\n<li>lampu LED;<\/li>\n<li>komputer dan laptop.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Dengan menggunakan Hukum Ohm, teknisi dapat menentukan nilai hambatan maupun tegangan yang diperlukan agar suatu perangkat bekerja secara aman dan efisien.<\/p>\n<h2>Perbedaan Hukum Ohm dan Hukum Coulomb<\/h2>\n<p>Meskipun sama-sama dipelajari dalam materi kelistrikan, Hukum Ohm dan Hukum Coulomb memiliki pembahasan yang berbeda.<\/p>\n<table>\n<thead>\n<tr>\n<th>Materi<\/th>\n<th>Membahas<\/th>\n<th>Besaran Utama<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td>Hukum Ohm<\/td>\n<td>Hubungan tegangan, arus, dan hambatan<\/td>\n<td>Volt, Ampere, Ohm<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Hukum Coulomb<\/td>\n<td>Gaya tarik atau tolak antarmuatan listrik<\/td>\n<td>Muatan, gaya, jarak<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Melalui perbandingan tersebut, Sahabat Rumah Pintar dapat memahami bahwa Hukum Ohm membahas arus listrik pada rangkaian, sedangkan Hukum Coulomb membahas interaksi antarmuatan listrik.<\/p>\n<h2>Mengapa Hukum Ohm Penting Dipelajari?<\/h2>\n<p>Materi Hukum Ohm menjadi dasar dalam mempelajari listrik dinamis karena hampir seluruh perhitungan rangkaian listrik menggunakan konsep ini. Dengan memahami Hukum Ohm, Sahabat Rumah Pintar akan lebih mudah menghitung besar tegangan, arus, maupun hambatan pada berbagai jenis rangkaian.<\/p>\n<p>Selain itu, pemahaman mengenai Hukum Ohm juga membantu menjelaskan cara kerja berbagai perangkat elektronik yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga konsep fisika terasa lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari.<\/p>\n<h2>Tips Mudah Mengingat Rumus Hukum Ohm<\/h2>\n<p>Agar tidak mudah lupa saat mengerjakan <strong>soal Hukum Ohm<\/strong> maupun <strong>soal Hukum Ohm kelas 9<\/strong>, Sahabat Rumah Pintar dapat mengingat beberapa poin berikut.<\/p>\n<ul>\n<li>Tegangan dilambangkan dengan <strong>V<\/strong>.<\/li>\n<li>Kuat arus dilambangkan dengan <strong>I<\/strong>.<\/li>\n<li>Hambatan dilambangkan dengan <strong>R<\/strong>.<\/li>\n<li>Rumus utama Hukum Ohm adalah <strong>V = I \u00d7 R<\/strong>.<\/li>\n<li>Jika mencari arus, gunakan <strong>I = V \u00f7 R<\/strong>.<\/li>\n<li>Jika mencari hambatan, gunakan <strong>R = V \u00f7 I<\/strong>.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Dengan memahami hubungan ketiga besaran tersebut, Sahabat Rumah Pintar tidak hanya mampu menghafal rumus, tetapi juga memahami alasan mengapa arus listrik berubah ketika tegangan atau hambatan mengalami perubahan.<\/p>\n<h2>Kesimpulan<\/h2>\n<p>Bunyi Hukum Ohm menjelaskan bahwa kuat arus listrik berbanding lurus dengan tegangan dan berbanding terbalik dengan hambatan selama suhu penghantar tetap.<\/p>\n<p>Konsep yang ditemukan oleh Georg Simon Ohm ini menjadi dasar dalam memahami hubungan antara tegangan, arus, dan hambatan melalui rumus Hukum Ohm atau persamaan Hukum Ohm.<\/p>\n<p>Dengan memahami bunyi Hukum Ohm, Sahabat Rumah Pintar akan lebih mudah menyelesaikan contoh soal Hukum Ohm sekaligus memahami cara kerja berbagai peralatan listrik yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Blog Rumah Pintar\u00a0\u2013\u00a0Saat Sahabat Rumah Pintar menyalakan lampu, mengisi daya ponsel, atau menggunakan kipas angin, arus listrik dapat mengalir melalui rangkaian sehingga peralatan tersebut dapat berfungsi dengan baik. Namun, besarnya arus listrik yang mengalir ternyata tidak terjadi secara acak karena [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2633,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"default","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[256,293,36],"tags":[319],"class_list":["post-2612","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-fisika","category-fisika-kelas-9","category-konsep-dan-pelajaran","tag-fisika-smp-kelas-9"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2612","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2612"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2612\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2634,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2612\/revisions\/2634"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2633"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2612"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2612"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2612"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}