{"id":2524,"date":"2026-06-24T10:01:02","date_gmt":"2026-06-24T10:01:02","guid":{"rendered":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/?p=2524"},"modified":"2026-07-13T15:27:41","modified_gmt":"2026-07-13T15:27:41","slug":"rumus-resultan-vektor-analitis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/rumus-resultan-vektor-analitis\/","title":{"rendered":"Rumus Resultan Vektor Analitis: Pengertian, Cara Hitung, dan Contoh Soal Lengkap"},"content":{"rendered":"<p><strong data-start=\"259\" data-end=\"278\"><b><a href=\"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\">Blog Rumah Pintar<\/a><\/b> \u2013 <\/strong>Menentukan resultan vektor dengan metode analitis merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dikuasai siswa SMA Kelas 11. Resultan vektor menunjukkan besar dan arah gabungan dari dua atau lebih vektor yang bekerja secara bersamaan. Untuk memperoleh hasil yang akurat, terdapat beberapa metode yang dapat digunakan, salah satunya adalah metode analitis.<\/p>\n<p>Dibandingkan metode grafis, rumus <a href=\"https:\/\/www.storyofmathematics.com\/resultant-vector\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">resultan vektor<\/a> analitis lebih sering digunakan dalam soal-soal Fisika karena memberikan hasil yang lebih presisi.<\/p>\n<p>Metode ini menggunakan pendekatan matematika dengan menguraikan setiap vektor menjadi komponen pada sumbu X dan sumbu Y, kemudian menjumlahkan seluruh komponen tersebut sebelum menentukan besar serta arah resultannya.<\/p>\n<p>Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai rumus resultan vektor analitis, mulai dari pengertian, konsep dasar, rumus yang digunakan, langkah-langkah perhitungan, contoh soal, hingga tips agar lebih mudah menyelesaikan soal-soal vektor.<\/p>\n<h3>Apa Itu Resultan Vektor Analitis?<\/h3>\n<p>Resultan vektor analitis adalah metode untuk menentukan besar dan arah resultan beberapa vektor melalui perhitungan matematis. Pada metode ini, setiap vektor diuraikan terlebih dahulu menjadi komponen horizontal dan vertikal, kemudian seluruh komponen dijumlahkan sehingga diperoleh resultan akhirnya.<\/p>\n<p>Berbeda dengan metode segitiga atau jajargenjang yang menggunakan gambar, metode analitis lebih mengandalkan rumus trigonometri dan Teorema Pythagoras. Oleh karena itu, hasil yang diperoleh lebih akurat dan dapat diterapkan pada berbagai jenis soal, baik yang melibatkan dua vektor maupun lebih.<\/p>\n<p>Metode ini banyak digunakan dalam materi Fisika karena mampu menyelesaikan persoalan yang memiliki arah berbeda-beda. Selain itu, metode analitis juga sering diterapkan dalam bidang teknik, arsitektur, hingga rekayasa mesin yang membutuhkan perhitungan gaya secara presisi.<\/p>\n<h3>Kapan Rumus Resultan Vektor Analitis Digunakan?<\/h3>\n<p>Metode analitis digunakan ketika sebuah soal melibatkan dua atau lebih vektor yang arahnya tidak berada pada satu garis lurus. Cara ini juga menjadi pilihan yang tepat apabila diketahui besar masing-masing vektor beserta sudutnya terhadap sumbu koordinat.<\/p>\n<p>Beberapa kondisi yang umumnya menggunakan metode analitis antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Menghitung resultan gaya.<\/li>\n<li>Menentukan resultan perpindahan.<\/li>\n<li>Menghitung resultan kecepatan.<\/li>\n<li>Menentukan percepatan total.<\/li>\n<li>Menghitung resultan medan listrik.<\/li>\n<li>Menghitung resultan medan magnet.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Karena dapat digunakan pada berbagai kondisi, metode analitis menjadi salah satu teknik yang paling sering dipelajari dalam materi vektor.<\/p>\n<h3>Konsep Dasar Metode Analitis<\/h3>\n<p>Prinsip utama metode analitis adalah menguraikan setiap vektor menjadi dua komponen yang saling tegak lurus, yaitu komponen pada sumbu X dan komponen pada sumbu Y. Setelah seluruh komponen diperoleh, masing-masing komponen dijumlahkan sesuai arahnya.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, sebuah gaya sebesar 60 Newton yang membentuk sudut terhadap sumbu X sebenarnya memiliki dua bagian. Sebagian gaya bekerja secara horizontal, sedangkan sebagian lainnya bekerja secara vertikal. Kedua komponen tersebut kemudian digabungkan dengan komponen dari vektor lainnya sehingga diperoleh resultan total.<\/p>\n<p>Cara ini membuat proses perhitungan menjadi lebih sederhana, terutama ketika jumlah vektor yang dihitung cukup banyak.<\/p>\n<h3>Rumus Komponen Vektor<\/h3>\n<p>Sebelum menghitung resultan, setiap vektor harus diuraikan menjadi komponen horizontal dan vertikal menggunakan rumus berikut.<\/p>\n<h4>Komponen pada Sumbu X<\/h4>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">Vx = V \u00d7 cos \u03b8<\/p>\n<h4>Komponen pada Sumbu Y<\/h4>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">Vy = V \u00d7 sin \u03b8<\/p>\n<p>Keterangan:<\/p>\n<ul>\n<li>V = besar vektor.<\/li>\n<li>\u03b8 = sudut terhadap sumbu X.<\/li>\n<li>Vx = komponen horizontal.<\/li>\n<li>Vy = komponen vertikal.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Apabila sudut diukur dari sumbu Y, penggunaan fungsi sinus dan cosinus akan menyesuaikan dengan posisi sudut tersebut.<\/p>\n<h3>Rumus Resultan Vektor Analitis<\/h3>\n<p>Setelah seluruh komponen diketahui, langkah berikutnya adalah menjumlahkan komponen pada masing-masing sumbu.<\/p>\n<h4>Menjumlahkan Komponen Sumbu X<\/h4>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">\u03a3X = Vx\u2081 + Vx\u2082 + Vx\u2083 + &#8230;<\/p>\n<p>Pada tahap ini, setiap komponen harus diberi tanda positif atau negatif sesuai dengan arahnya.<\/p>\n<h4>Menjumlahkan Komponen Sumbu Y<\/h4>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">\u03a3Y = Vy\u2081 + Vy\u2082 + Vy\u2083 + &#8230;<\/p>\n<p>Sama seperti komponen horizontal, tanda positif dan negatif harus diperhatikan agar hasil penjumlahan sesuai dengan arah vektor.<\/p>\n<h4>Menghitung Besar Resultan<\/h4>\n<p>Apabila nilai \u03a3X dan \u03a3Y telah diperoleh, besar resultan dapat dihitung menggunakan rumus:<\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">R = \u221a(\u03a3X\u00b2 + \u03a3Y\u00b2)<\/p>\n<p>Rumus tersebut berasal dari Teorema Pythagoras karena komponen horizontal dan vertikal saling tegak lurus.<\/p>\n<h4>Menghitung Arah Resultan<\/h4>\n<p>Selain besar resultan, arah resultan juga dapat dihitung menggunakan rumus berikut.<\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">tan \u03b8 = \u03a3Y \/ \u03a3X<\/p>\n<p>Nilai sudut kemudian diperoleh dengan menggunakan fungsi tan\u207b\u00b9 atau inverse tangent pada kalkulator ilmiah.<\/p>\n<h3>Langkah-Langkah Menghitung Resultan Vektor Analitis<\/h3>\n<p>Agar proses perhitungan lebih mudah dipahami, berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan secara berurutan.<\/p>\n<h4>1. Tentukan Besar dan Arah Setiap Vektor<\/h4>\n<p>Langkah pertama adalah mencatat seluruh vektor yang diketahui beserta besar dan arah atau sudutnya. Informasi tersebut menjadi dasar untuk menentukan komponen horizontal dan vertikal.<\/p>\n<h4>2. Uraikan Setiap Vektor<\/h4>\n<p>Gunakan rumus sinus dan cosinus untuk mencari komponen pada sumbu X dan sumbu Y dari masing-masing vektor.<\/p>\n<h4>3. Jumlahkan Komponen Horizontal<\/h4>\n<p>Seluruh komponen horizontal dijumlahkan dengan memperhatikan tanda positif dan negatif sesuai arah masing-masing vektor.<\/p>\n<h4>4. Jumlahkan Komponen Vertikal<\/h4>\n<p>Lakukan langkah yang sama pada seluruh komponen vertikal hingga diperoleh nilai \u03a3Y.<\/p>\n<h4>5. Hitung Besar Resultan<\/h4>\n<p>Masukkan nilai \u03a3X dan \u03a3Y ke dalam rumus Pythagoras untuk memperoleh besar resultan.<\/p>\n<h4>6. Tentukan Arah Resultan<\/h4>\n<p>Apabila soal meminta arah resultan, gunakan rumus tangen untuk memperoleh besar sudut terhadap sumbu X.<\/p>\n<p>Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut secara sistematis, proses penyelesaian soal menjadi lebih mudah dan kemungkinan kesalahan dapat diminimalkan.<\/p>\n<h3>Contoh Soal 1<\/h3>\n<p>Sebuah gaya sebesar 50 Newton membentuk sudut 37\u00b0 terhadap sumbu X. Tentukan komponen pada sumbu X dan sumbu Y.<\/p>\n<p><strong>Penyelesaian<\/strong><\/p>\n<p>Diketahui:<\/p>\n<ul>\n<li>V = 50 N<\/li>\n<li>\u03b8 = 37\u00b0<\/li>\n<\/ul>\n<p>Nilai trigonometri:<\/p>\n<ul>\n<li>cos 37\u00b0 = 0,8<\/li>\n<li>sin 37\u00b0 = 0,6<\/li>\n<\/ul>\n<p>Maka:<\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">Vx = 50 \u00d7 0,8 = 40 N<\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">Vy = 50 \u00d7 0,6 = 30 N<\/p>\n<p>Jadi, komponen horizontal gaya adalah 40 Newton, sedangkan komponen vertikalnya sebesar 30 Newton.<\/p>\n<h3>Contoh Soal 2<\/h3>\n<p>Sebuah benda dikenai dua gaya.<\/p>\n<ul>\n<li>Gaya pertama = 30 Newton ke arah timur.<\/li>\n<li>Gaya kedua = 40 Newton ke arah utara.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Hitung besar dan arah resultannya.<\/p>\n<p><strong>Penyelesaian<\/strong><\/p>\n<p>Komponen horizontal:<\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">\u03a3X = 30 N<\/p>\n<p>Komponen vertikal:<\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">\u03a3Y = 40 N<\/p>\n<p>Besar resultan:<\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">R = \u221a(30\u00b2 + 40\u00b2)<\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">R = \u221a900 + 1600<\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">R = \u221a2500<\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">R = 50 Newton<\/p>\n<p>Arah resultan:<\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">tan \u03b8 = 40 \/ 30<\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">\u03b8 = tan\u207b\u00b9 (1,33)<\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">\u03b8 \u2248 53\u00b0 terhadap sumbu X<\/p>\n<p>Dengan demikian, resultan kedua gaya tersebut adalah 50 Newton dengan arah sekitar 53\u00b0 terhadap sumbu X.<\/p>\n<h3>Contoh Soal 3<\/h3>\n<p>Dua gaya bekerja pada sebuah benda.<\/p>\n<ul>\n<li>Gaya pertama = 60 Newton ke kanan.<\/li>\n<li>Gaya kedua = 25 Newton ke kiri.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Hitung resultannya menggunakan metode analitis.<\/p>\n<p><strong>Penyelesaian<\/strong><\/p>\n<p>Karena kedua gaya berada pada satu garis lurus, maka:<\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">\u03a3X = 60 \u2212 25 = 35 N<\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">\u03a3Y = 0<\/p>\n<p>Besar resultan:<\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">R = \u221a(35\u00b2 + 0\u00b2)<\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 1.1em;\">R = 35 Newton<\/p>\n<p>Karena komponen vertikal bernilai nol, resultan tetap mengarah ke kanan.<\/p>\n<h3>Kelebihan Metode Analitis<\/h3>\n<p>Metode analitis memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan metode grafis. Salah satu kelebihannya adalah hasil perhitungan yang lebih akurat karena menggunakan pendekatan matematis.<\/p>\n<p>Selain itu, metode ini juga dapat digunakan untuk menghitung resultan lebih dari dua vektor sekaligus. Fleksibilitas tersebut membuat metode analitis menjadi teknik yang paling sering digunakan dalam pembelajaran Fisika maupun bidang teknik.<\/p>\n<p>Keunggulan lainnya adalah kemampuan metode ini untuk menentukan besar dan arah resultan secara bersamaan. Dengan demikian, informasi yang diperoleh menjadi lebih lengkap dibandingkan beberapa metode lainnya.<\/p>\n<h3>Perbedaan Metode Analitis dan Metode Kosinus<\/h3>\n<p>Meskipun sama-sama digunakan untuk menghitung resultan vektor, kedua metode tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.<\/p>\n<table style=\"border-collapse: collapse; width: 100%;\">\n<thead>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Metode Analitis<\/th>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Metode Kosinus<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Dapat digunakan untuk dua atau lebih vektor.<\/td>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Umumnya digunakan untuk dua vektor.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Menguraikan setiap vektor menjadi komponen X dan Y.<\/td>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Tidak perlu menguraikan komponen.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Menggunakan sinus, cosinus, dan Pythagoras.<\/td>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Menggunakan aturan kosinus.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Dapat menghitung besar dan arah resultan.<\/td>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Lebih fokus menghitung besar resultan.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Cocok untuk soal dengan arah yang kompleks.<\/td>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Cocok jika diketahui sudut antar dua vektor.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Dengan memahami perbedaan tersebut, siswa dapat memilih metode yang paling sesuai berdasarkan informasi yang tersedia pada soal.<\/p>\n<h3>Kesalahan yang Sering Terjadi<\/h3>\n<p>Beberapa kesalahan yang sering dilakukan siswa saat menggunakan metode analitis antara lain salah menentukan tanda positif dan negatif pada komponen vektor, tertukar dalam menggunakan fungsi sinus dan cosinus, serta langsung menjumlahkan besar vektor tanpa menguraikannya terlebih dahulu.<\/p>\n<p>Selain itu, masih banyak siswa yang lupa memperhatikan kuadran saat menentukan arah resultan sehingga sudut yang diperoleh menjadi kurang tepat. Oleh karena itu, setiap langkah perhitungan perlu dilakukan secara teliti agar hasil akhirnya benar.<\/p>\n<h3>Ringkasan Rumus Resultan Vektor Analitis<\/h3>\n<table style=\"border-collapse: collapse; width: 100%;\">\n<thead>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Tahapan<\/th>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Rumus<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Komponen X<\/td>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Vx = V \u00d7 cos \u03b8<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Komponen Y<\/td>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Vy = V \u00d7 sin \u03b8<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Jumlah komponen X<\/td>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">\u03a3X = \u03a3Vx<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Jumlah komponen Y<\/td>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">\u03a3Y = \u03a3Vy<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Besar resultan<\/td>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">R = \u221a(\u03a3X\u00b2 + \u03a3Y\u00b2)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Arah resultan<\/td>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">tan \u03b8 = \u03a3Y \/ \u03a3X<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h3>Penutup<\/h3>\n<p>Rumus resultan vektor analitis merupakan metode yang digunakan untuk menghitung besar dan arah resultan beberapa vektor melalui pendekatan matematis. Proses perhitungannya dimulai dengan menguraikan setiap vektor menjadi komponen horizontal dan vertikal, kemudian menjumlahkan seluruh komponen tersebut sebelum menghitung besar resultan menggunakan Teorema Pythagoras.<\/p>\n<p>Dengan memahami rumus resultan vektor analitis, siswa akan lebih mudah menyelesaikan berbagai soal yang berkaitan dengan gaya, perpindahan, kecepatan, maupun percepatan. Penguasaan metode ini juga menjadi dasar penting sebelum mempelajari materi Fisika yang lebih kompleks, seperti gerak dua dimensi, hukum Newton, dinamika partikel, hingga mekanika.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Blog Rumah Pintar \u2013 Menentukan resultan vektor dengan metode analitis merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dikuasai siswa SMA Kelas 11. Resultan vektor menunjukkan besar dan arah gabungan dari dua atau lebih vektor yang bekerja secara bersamaan. Untuk memperoleh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2525,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"default","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[256,295,36],"tags":[317],"class_list":["post-2524","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-fisika","category-fisika-kelas-11","category-konsep-dan-pelajaran","tag-fisika-sma-kelas-11"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2524","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2524"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2524\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2529,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2524\/revisions\/2529"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2525"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2524"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2524"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rumahpintar.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2524"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}