Bimbel Rumah Pintar – Sejarah Bahasa Indonesia berakar kuat dari bahasa Melayu yang telah lama menjadi lingua franca (bahasa perantara) di seluruh Nusantara selama berabad-abad.
Perjalanan panjangnya mencapai titik krusial pada 28 Oktober 1928 melalui momentum Sumpah Pemuda, ketika Bahasa Indonesia diikrarkan sebagai bahasa persatuan, yang menjadi tonggak penting dalam perkembangan identitas nasional kita.
Artikel ini akan mengupas tuntas asal-usulnya dari Melayu Kuno, peran krusial Sumpah Pemuda, pengukuhan statusnya sebagai bahasa nasional, hingga perkembangannya yang dinamis dengan lonjakan kosakata hingga diakui oleh UNESCO.
Bukti kedinamisan ini terlihat jelas dari jumlah entri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang kini telah mencapai lebih dari 200.000 entri, bahkan mencatatkan rekor penambahan kosakata terbesar dalam sejarahnya pada akhir 2024.
Bahkan, di kancah global, Bahasa Indonesia telah mencatat sejarah baru dengan diresmikannya sebagai bahasa kerja (official working language) dalam Sidang Umum UNESCO, mengukuhkan perannya melampaui batas-batas Nusantara.
Akar Budaya dan Asal Usul Bahasa Indonesia dari Bahasa Melayu
Jauh sebelum istilah “Bahasa Indonesia” muncul, cikal bakalnya, yakni bahasa Melayu, sudah menjadi nadi komunikasi utama di wilayah Asia Tenggara. Bahasa Melayu Kuno telah digunakan sebagai bahasa perdagangan dan interaksi antarsuku selama berabad-abad.
Bahasa Melayu berhasil menyebar luas dan diterima secara universal, yang pada akhirnya menjadi dasar bagi Bahasa Indonesia modern. Keberadaan bahasa ini terekam dalam prasasti-prasasti kuno dari zaman Kerajaan Sriwijaya, seperti Prasasti Kedukan Bukit (683 M) dan Prasasti Talang Tuo (684 M) di Palembang, membuktikan usianya yang sudah sangat tua.
Ada dua faktor utama yang membuat Bahasa Melayu mudah diterima:
- Aksesibilitas Tinggi
Bahasa Melayu digunakan secara luas untuk perdagangan dan komunikasi antarpulau, antarsuku, dan antarbangsa di Asia Tenggara. Para pedagang dari China, Arab, hingga Eropa menggunakan bahasa ini saat berinteraksi di Nusantara.
- Sistem yang Sederhana
Bahasa Melayu memiliki sistem bahasa yang relatif sederhana dan mudah dipelajari. Ia tidak mengenal tingkatan tutur (bahasa kasar/halus) yang kompleks seperti yang dimiliki oleh banyak bahasa daerah lainnya (misalnya, bahasa Jawa atau Sunda), sehingga masyarakat majemuk di nusantara dapat menerimanya tanpa hambatan sosial.
Kemampuan beradaptasi dan kesederhanaan inilah yang membuat Bahasa Melayu memiliki potensi besar untuk menjadi bahasa pemersatu, sebuah peran yang diresmikan di masa perjuangan kemerdekaan.
Tonggak Sejarah Bahasa Indonesia dan Peran Krusial Sumpah Pemuda 1928
Masa penjajahan Belanda menuntut para pemuda Indonesia untuk menemukan alat pemersatu yang kuat, yang mampu menjembatani berbagai suku bangsa dengan latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda.
Pengukuhan Identitas Kebangsaan
Ikrar bersejarah terjadi dalam Kongres Pemuda II yang diadakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Batavia (sekarang Jakarta). Dalam kongres ini, Bahasa Indonesia secara resmi diangkat dan diikrarkan sebagai bahasa persatuan. Ikrar ketiga dari Sumpah Pemuda berbunyi:
“Kami poetra dan poetri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”
Penggunaan frasa “Bahasa Indonesia,” bukan sekadar “Bahasa Melayu,” memiliki makna politis dan kebangsaan yang mendalam.
Tokoh penting di balik penamaan ini adalah Mohammad Tabrani, yang berpendapat bahwa jika nama negaranya Indonesia, maka bahasa kebangsaannya juga harus bernama Bahasa Indonesia, bukan Bahasa Melayu, untuk menunjukkan semangat kebangsaan yang baru dan berbeda.
Momen ini merupakan titik balik fundamental dalam sejarah Bahasa Indonesia, menjadikannya simbol pemersatu bangsa.
Peningkatan Status dan Pengakuan Global
Setelah Sumpah Pemuda, status Bahasa Indonesia terus diperkuat, dari bahasa perjuangan menjadi bahasa resmi negara dan kini melangkah ke panggung internasional.
Bahasa Indonesia resmi menjadi bahasa nasional di Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 18 Agustus 1945, yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
Ini mengukuhkan perannya di seluruh aspek kehidupan bernegara, mulai dari pendidikan, administrasi, hingga media massa.
Standardisasi Ejaan Bahasa Indonesia pun terus beradaptasi melalui standardisasi ejaan. Perkembangan ini dimulai dari Ejaan Van Ophuijsen (dipengaruhi Belanda) kemudian Ejaan Soewandi.
Hingga kemudian muncul Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang saat ini digunakan, menunjukkan upaya berkelanjutan untuk menciptakan tata bahasa yang baku dan terstruktur.
Bahasa Indonesia di Kancah Internasional
Pada November 2023, Bahasa Indonesia mencatat sejarah baru yang membanggakan. Bahasa persatuan kita resmi diresmikan sebagai bahasa kerja (official working language) dalam Sidang Umum UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa).
Pengakuan ini adalah buah dari peran historis dan statusnya yang dinamis, menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia tidak hanya relevan di Nusantara, tetapi juga dihormati di panggung dunia.






