Bimbel Rumah Pintar —Lapisan es dunia terutama di Kutub Utara (Arktik) dan Kutub Selatan (Antartika)—menunjukkan tren pencairan yang mengkhawatirkan.
Laju hilangnya massa es telah meningkat secara drastis dalam beberapa dekade terakhir sebagai respons langsung terhadap perubahan iklim dan pemanasan global.
Data ilmiah menggarisbawahi urgensi masalah ini: laju pencairan es di Kutub Utara dan Antartika sama-sama meningkat enam kali lipat sejak tahun 1979, dengan Greenland kehilangan sekitar 266 miliar ton dan Antartika 135 miliar ton massa es per tahun.
Bagi sahabat rumah pintar, memahami dinamika pencairan es ini adalah kunci untuk memahami krisis iklim yang lebih besar. Meskipun es yang tersisa di Bumi masih berjumlah puluhan juta kilometer kubik—menyimpan hampir 75% air tawar dunia di Antartika saja—laju kehilangan es yang masif ini telah menyebabkan dampak nyata.
Data Mengkhawatirkan: Laju Pencairan Lapisan Es Dunia
Dalam beberapa tahun terakhir, laju pencairan es telah menunjukkan akselerasi yang signifikan. Data ilmiah yang tersedia menunjukkan bahwa Bumi mengalami kehilangan massa es dalam skala triliunan ton.
Peningkatan Laju Kehilangan Massa Es
Kehilangan massa es di wilayah kutub tidak hanya terjadi, tetapi juga mengalami peningkatan laju yang drastis akibat suhu global yang terus memanas:
- Peningkatan Laju yang Drastis
Laju pencairan es di wilayah Kutub Utara (Greenland) telah meningkat enam kali lipat dalam 30 tahun terakhir. Tren serupa juga terjadi di Kutub Selatan, di mana laju pencairan es di Antartika juga meningkat enam kali lipat sejak tahun 1979.
- Kehilangan Massa Es Tahunan:
- Greenland kehilangan sekitar 266 miliar ton massa es per tahun. Massa es yang hilang ini berasal dari lapisan es daratan, sehingga secara langsung menyumbang pada kenaikan permukaan laut.
- Antartika kehilangan sekitar 135 miliar ton massa es per tahun.
- Total Kehilangan Tahunan:
Secara total, lapisan es di Arktik dan Antartika telah kehilangan rata-rata 420 gigaton es setiap tahun sejak tahun 2000, sebuah angka yang setara dengan jutaan kali ukuran piramida Giza.
Rekor Terendah Es Laut
Selain kehilangan es daratan, es laut (sea ice), yang terbentuk dari pembekuan air laut, juga menunjukkan tren menurun yang signifikan:
- Rekor Terendah: Pada tahun-tahun terakhir, es laut di Arktik dan Antartika mendekati atau mencapai titik terendah dalam sejarah pengamatan. Sebagai contoh nyata, pada Februari 2023, es laut Antartika mencetak rekor terendah baru.
- Perubahan Komposisi: Di Arktik, es laut yang berusia multi-tahun (yang tebal dan lebih stabil) terus menurun drastis, digantikan oleh es tahun pertama yang lebih tipis dan jauh lebih rentan untuk mencair.
Total Kehilangan Jangka Panjang: Antara tahun 1994 hingga 2017, Bumi secara keseluruhan kehilangan sekitar 28 triliun ton es dari kutub dan gletser.
Laju pencairan es saat ini sangat mengkhawatirkan para ilmuwan, dengan perkiraan bahwa Arktik dapat sepenuhnya bebas es laut di musim panas pada tahun 2040 jika tren pemanasan saat ini berlanjut.
Dampak Pencairan Lapisan Es Dunia
Pencairan es kutub bukanlah masalah regional, melainkan memiliki konsekuensi global yang signifikan dan memengaruhi setiap aspek kehidupan di Bumi.
-
Kenaikan Permukaan Air Laut (Sea Level Rise)
Ini adalah dampak yang paling nyata dan mengancam. Air lelehan yang berasal dari lapisan es di daratan (seperti Greenland dan Antartika) secara langsung menambah volume air di lautan, menyebabkan kenaikan permukaan laut global. Kenaikan ini mengancam keberadaan kota-kota pesisir, wilayah dataran rendah, dan pulau-pulau kecil di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
-
Mempercepat Perubahan Iklim Global
Es memiliki peran penting dalam regulasi suhu Bumi karena berfungsi sebagai cermin putih yang memantulkan panas matahari kembali ke luar angkasa (dikenal sebagai efek albedo).
- Ketika es mencair, permukaan yang tertinggal adalah air laut yang gelap atau daratan.
- Air laut dan daratan menyerap lebih banyak panas matahari daripada es.
- Absorpsi panas yang lebih besar ini mempercepat pemanasan global, menciptakan lingkaran umpan balik (feedback loop) yang memperburuk kenaikan suhu Bumi dan menyebabkan cuaca ekstrem yang lebih intens.
-
Gangguan pada Arus Laut Global
Masuknya volume air lelehan yang sangat dingin dan tawar dari Greenland dan Antartika ke lautan memengaruhi sirkulasi arus laut global (thermohaline circulation). Arus laut berperan sebagai “sabuk konveyor” yang mendistribusikan panas dan nutrisi ke seluruh dunia.
Perlambatan arus laut dapat mengubah pola iklim global secara drastis, memicu pendinginan ekstrem di beberapa wilayah dan perubahan curah hujan yang tidak terduga di wilayah lain.
-
Ancaman Keanekaragaman Hayati
Hilangnya es secara drastis menghancurkan habitat satwa liar yang bergantung pada es untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Hewan seperti beruang kutub, penguin, anjing laut, dan spesies Arktik lainnya menghadapi penyusutan habitat yang cepat, mengancam kelangsungan hidup mereka.
Lapisan Es Dunia yang Tersisa
Meskipun laju pencairan terus meningkat, sebagian besar air tawar di dunia masih tersimpan dalam bentuk es. Saat ini, sekitar 68,7% air tawar di dunia tersimpan dalam bentuk es di gletser dan lapisan es di kutub.
Total volume es di daratan Bumi diperkirakan mencapai puluhan juta kilometer kubik. Data es yang tersisa di dunia terbagi menjadi beberapa komponen raksasa:
-
Lapisan Es Antartika (Antarctic Ice Sheet)
Ini adalah massa es terbesar di Bumi, meliputi hampir 14 juta kilometer persegi.
- Volume: Mengandung sekitar 30 juta kilometer kubik es.
- Cadangan Air Tawar: Lapisan es ini menyimpan sekitar 75% dari total air tawar di Bumi.
- Potensi Kenaikan Air Laut: Jika semua es di Antartika mencair, permukaan laut global akan naik sekitar 58 meter, sebuah bencana yang tak terbayangkan.
-
Lapisan Es Greenland (Greenland Ice Sheet)
Lapisan es Greenland adalah yang terbesar kedua, mencakup sekitar 80% permukaan pulau Greenland.
- Volume: Mengandung sekitar 2,9 juta kilometer kubik es.
- Potensi Kenaikan Air Laut: Jika lapisan es Greenland mencair seluruhnya, permukaan laut global akan naik sekitar 7 meter, mengancam semua kota pesisir besar dunia.
-
Gletser Pegunungan dan Tudung Es Lainnya
Selain dua lapisan es raksasa di kutub, terdapat lebih dari 275.000 gletser kecil dan tudung es di seluruh dunia (di luar Greenland dan Antartika), seperti di Himalaya, Pegunungan Rocky, Alpen, dan Andes.
- Volume: Total volume es dari gletser-gletser ini diperkirakan sekitar 170 ribu Km3 Gletser-gletser ini mencair jauh lebih cepat dan menyumbang signifikan pada kenaikan permukaan laut dalam jangka pendek.
Secara keseluruhan, meskipun jumlah es yang tersisa masih sangat besar, laju pencairannya yang meningkat pesat, dengan total kehilangan sekitar 28 triliun ton es antara tahun 1994 hingga 2017, menjadikannya bukti paling mengkhawatirkan dari pemanasan global terhadap lapisan es dunia.






